Kata Kata Motivasi Hidup Jangan Meremehkan Orang Lain

Kata Kata Motivasi Hidup Jangan Meremehkan Orang Lain - Meremehkan adalah menganggap sebelah mata orang yang lebih rendah di bawah kita, padahal perbuatan seperti itu tidak sama sekali dianjurkan oleh agama kita masing-masing. Maka dari itu, jangan pernah anda meremehkan orang lain dan marilah kita saling menghormati dan saling menjaga.
Kata Kata Motivasi Hidup Jangan Meremehkan Orang Lain

Kata Kata Motivasi Hidup Jangan Meremehkan Orang Lain


Alhamdulillah pada kesempatan yang penuh dengan hikmah ini, izinkalah kami memberikan dan membagikan informasi dan artikel membahas mengenai Kata Kata Motivasi Hidup Jangan Meremehkan Orang Lain. Untuk lebih lengkap dan lebih detailnya, langsung saja anda menyimak artikel di bawah ini.

Jangan sekali-kali meremehkan dan merendahkan orang lain karena Allah menciptkan semua makluknya terutama kita sebagai manusia pasti ada tujuan dan manfaatnya tertentu. Karena penciptaan Allah Swt tidak ada yang tidak sempurna semuanya sempurna bagi mereka yang mengerti akan hakikat dari Allah Swt.
Semakin anda menghina orang berdasarkan sesuatu yang tidak sesuai dengan keadaan dan sebenarnya. Maka secara tidak langsung, anda telah merendahkan dan meremehkan diri anda sendiri jika sesuatu yang anda lakukan itu tidaklah benar. 
Meremehkan orang lain adalah pekerjaan tak berguna. Menghabiskan tenaga, tapi tak menghasilkan keuntungan apapun. Menghabiskan waktu dan perhatian, tapi tak mendatangkan kebahagiaan. Hanya kenikamtan satu detik, tapi berakhir dengan sesuatu yang mengecewakan.
Setiap kali anda meremehkan orang lain, anda mengurangi motivasi diri anda untuk menjadi lebih baik, serta menambah motivasi orang yang anda remehkan untuk lebih baik dari anda.
Meremehkan orang lain tidak memberimu keuntungan apapun. Yang di untungkan hanyalah nafsu kesombongan yang justru dikemudian hari membuatmu menjadi pribadi yang lemah.
Saat anda meremehkan lawan-lawan anda yang lemah, anda sedang menghambat perkembangan kekuatan anda. Saat anda tidak meremehkannya, anda akan memiliki semangat untuk tumbuh.
Orang yang suka meremehkan merasa dirinya sangat hebat. Padahal jika dilihat dari segala sudut pandang, ia tidak lebih hebat dari semua yang pernah diremehkannya.
Dunia telah melihat jutaan manusia yang diremehkan pada awalnya, kini mengalahkan mereka-mereka yang telah meremehkannya.
Jangan meremehkan orang paling bodoh sekalipun. Karena bisa jadi anda akan mengemis meminta pertolongan padanya suatu hari nanti.
Jangan meremehkan orang lain, karena orang itu kemungkinan besar memiliki kelebihan unik yang tidak anda miliki.
Meremehkan orang lain adalah bentuk penghinaan terhadap potensi luar biasa manusia. Setiap manusia memiliki potensi luar biasa, dan tak ada manusia yang pantas untuk diremehkan.
Sebelum anda meremehkan orang lain, sadarilah kalau Tuhanlah yang menciptakan mereka.
Ada ilmu berharga yang bisa di petik dari orang yang lebih lemah dari kita. dan ilmu tersebut tidak akan kita dapatkan jika kita meremehkan mereka.
Hanya orang kecil yang meremehkan orang lain, karena orang hebat selalu menghormati orang-orang yang lebih lemah darinya.
Bahkan jika ia orang paling tak berguna, tetap tak pantas kita remehkan. Karena setiap manusia tetap memiliki potensi besar.
Orang yang meremehkan orang lain, berarti sedang menghina dirinya sendiri dihadapan sang pencipta.
Jangan memandang seseorang melalui penampilan, karena anda akan selalu tertipu jika melakukannya. 

Pandangan Islam dalam merendahkan dan meremehkan orang lain :

Ada beberapa wasiat yang disampaikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada Abu Jurayy Jabir bin Sulaim. Wasiat yang pertama kita ulas adalah jangan sampai menghina dan meremehkan orang lain. Boleh jadi yang diremehkan lebih mulia dari kita di sisi Allah.

Abu Jurayy Jabir bin Sulaim, ia berkata, “Aku melihat seorang laki-laki yang perkataannya ditaati orang. Setiap kali ia berkata, pasti diikuti oleh mereka. Aku bertanya, “Siapakah orang ini?” Mereka menjawab, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Aku berkata, “‘Alaikas salaam (bagimu keselamatan), wahai Rasulullah (ia mengulangnya dua kali).” Beliau lalu berkata, “Janganlah engkau mengucapkan ‘alaikas salaam (bagimu keselamatan) karena salam seperti itu adalah penghormatan kepada orang mati. Yang baik diucapkan adalah assalamu ‘alaik (semoga keselamatan bagimu.”

Abu Jurayy bertanya, “Apakah engkau adalah utusan Allah?” Beliau menjawab, “Aku adalah utusan Allah yang apabila engkau ditimpa malapetaka, lalu engkau berdoa kepada Allah, maka Dia akan menghilangkan kesulitan darimu. Apabila engkau ditimpa kekeringan selama satu tahun, lantas engkau berdoa kepada Allah, maka Dia akan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan untukmu. Dan apabila engkau berada di suatu tempat yang gersang lalu untamu hilang, kemudian engkau berdoa kepada Allah, maka Dia akan mengembalikan unta tersebut untukmu.”

Abu Jurayy berkata lagi kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berilah wasiat kepadaku.”
Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memberi wasiat,

لاَ تَسُبَّنَّ أَحَدًا

Artinya : “Janganlah engkau menghina seorang pun.” Abu Jurayy berkata, “Aku pun tidak pernah menghina seorang pun setelah itu, baik kepada orang yang merdeka, seorang budak, seekor unta, maupun seekor domba.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melanjutkan sabdanya,

وَلاَ تَحْقِرَنَّ شَيْئًا مِنَ الْمَعْرُوفِ وَأَنْ تُكَلِّمَ أَخَاكَ وَأَنْتَ مُنْبَسِطٌ إِلَيْهِ وَجْهُكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنَ الْمَعْرُوفِ وَارْفَعْ إِزَارَكَ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ فَإِنْ أَبَيْتَ فَإِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِيَّاكَ وَإِسْبَالَ الإِزَارِ فَإِنَّهَا مِنَ الْمَخِيلَةِ وَإِنَّ اللَّهَ لاَ يُحِبُّ الْمَخِيلَةَ وَإِنِ امْرُؤٌ شَتَمَكَ وَعَيَّرَكَ بِمَا يَعْلَمُ فِيكَ فَلاَ تُعَيِّرْهُ بِمَا تَعْلَمُ فِيهِ فَإِنَّمَا وَبَالُ ذَلِكَ عَلَيْهِ

Artinya : “Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun walau dengan berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang tersenyum kepadanya. Amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan.

Tinggikanlah sarungmu sampai pertengahan betis. Jika enggan, engkau bisa menurunkannya hingga mata kaki. Jauhilah memanjangkan kain sarung hingga melewati mata kaki. Penampilan seperti itu adalah tanda sombong dan Allah tidak menyukai kesombongan.

Jika ada seseorang yang menghinamu dan mempermalukanmu dengan sesuatu yang ia ketahui ada padamu, maka janganlah engkau membalasnya dengan sesuatu yang engkau ketahui ada padanya. Akibat buruk biarlah ia yang menanggungnya.” (HR. Abu Daud no. 4084 dan Tirmidzi no. 2722. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Al Hafizh Ibnu Hajar menyatakan bahwa hadits ini shahih).

Di antara wasiat Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas adalah janganlah menghina orang lain. Setelah Rasul menyampaikan wasiat ini, Jabir bin Sulaim pun tidak pernah menghina seorang pun sampai pun pada seorang budak dan seekor hewan.

Dalam surat Al Hujurat, Allah Ta’ala memberikan kita petunjuk dalam berakhlak yang baik,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.” (QS. Al Hujurat: 11)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata bahwa ayat di atas berisi larangan melecehkan dan meremehkan orang lain. Dan sifat melecehkan dan meremehkan termasuk dalam kategori sombong sebagaimana sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Artinya : “Sombong adalah sikap menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim no. 91). Yang dimaksud di sini adalah meremehkan dan menganggapnya kerdil. Meremehkan orang lain adalah suatu yang diharamkan karena bisa jadi yang diremehkan lebih mulia di sisi Allah seperti yang disebutkan dalam ayat di atas.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 6: 713).

Ingatlah orang  jadi mulia di sisi Allah dengan ilmu dan takwa. Jangan sampai orang lain diremehkan dan dipandang hina. Allah Ta’ala berfirman,

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Artinya : “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al Mujadilah: 11)

Seorang mantan budak pun bisa jadi mulia dari yang lain lantaran ilmu. Coba perhatikan kisah seorang bekas budak berikut ini.

أَنَّ نَافِعَ بْنَ عَبْدِ الْحَارِثِ لَقِىَ عُمَرَ بِعُسْفَانَ وَكَانَ عُمَرُ يَسْتَعْمِلُهُ عَلَى مَكَّةَ فَقَالَ مَنِ اسْتَعْمَلْتَ عَلَى أَهْلِ الْوَادِى فَقَالَ ابْنَ أَبْزَى. قَالَ وَمَنِ ابْنُ أَبْزَى قَالَ مَوْلًى مِنْ مَوَالِينَا. قَالَ فَاسْتَخْلَفْتَ عَلَيْهِمْ مَوْلًى قَالَ إِنَّهُ قَارِئٌ لِكِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِنَّهُ عَالِمٌ بِالْفَرَائِضِ. قَالَ عُمَرُ أَمَا إِنَّ نَبِيَّكُمْ -صلى الله عليه وسلم- قَدْ قَالَ : إِنَّ اللَّهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ 

Dari Nafi’ bin ‘Abdil Harits, ia pernah bertemu dengan ‘Umar di ‘Usfaan. ‘Umar memerintahkan Nafi’ untuk mengurus Makkah. Umar pun bertanya, “Siapakah yang mengurus penduduk Al Wadi?” “Ibnu Abza”, jawab Nafi’. Umar balik bertanya, “Siapakah Ibnu Abza?” “Ia adalah salah seorang bekas budak dari budak-budak kami”, jawab Nafi’. Umar pun berkata, “Kenapa bisa kalian menyuruh bekas budak untuk mengurus seperti itu?” Nafi’ menjawab, “Ia adalah seorang yang paham Kitabullah. Ia pun paham ilmu faroidh (hukum waris).” ‘Umar pun berkata bahwa sesungguhnya Nabi kalian -shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah bersabda, “Sesungguhnya suatu kaum bisa dimuliakan oleh Allah lantaran kitab ini, sebaliknya bisa dihinakan pula karenanya.” (HR. Muslim no. 817). 

Penjelasan singkat mengenai jangan pernah meremehkan orang lain :

Banyak orang yang dihina termotivasi untuk bangkit dan menjadi berhasil dan banyak orang yang hancur karena lupa diri atas apa yang dimiliki yang sebenarnya tidak seberapa. Namun, mengapa ada saja orang yang suka meremehkan orang lain? Langsung saja kita simak selengkapnya…..

Meremehkan orang lain adalah perbuatan yang tidak menguntungkan, menguras tenaga, dan merugikan. Mengapa? Tidak menguntungkan karena Anda tidak akan mendapatkan apapun dengan meremehkan orang lain. Menguras tenaga karena Anda pasti akan membuang-buang tenaga dan energi Anda dengan sia-sia untuk meremehkan orang lain. Merugikan karena Anda bisa dimusuhi, dijauhi, dan dibenci banyak orang. Alih-alih ingin menjadi orang yang terhebat malah orang itu akan tenggelam oleh kehebatannya sendiri.

Tidak ada orang di dunia ini yang suka diremehkan. Mereka akan menjauhi orang yang suka meremehkan mereka. Bila orang yang diremehkan itu adalah orang bijak, pastilah dia akan termotivasi dan menjadi berhasil. Dunia ini penuh keajaiban, bisa saja (mungkin karena nasib) mereka yang diremehkan menjadi lebih hebat dari orang yang meremehkannya.

Menghina itu tidak baik, lalu mengapa ada saja orang yang suka menghina? Itu karena mereka terlalu melihat kebawah atau melihat/membandingkan orang yang lebih tidak mampu darinya. Hal itu membuat dirinya menjadi sombong dan berlanjut menjadi suka menghina orang lain.

Bedakan juga meremehkan/menghina dengan mengkritik. Jika meremehkan itu ada kegiatan membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain. Lain lagi dengan mengkritik, mengkritik tidak ada kegiatan yang tidak terpuji itu.

Jauh lebih hina orang yang menghina dari pada yang di hina. Orang tertindas akan di naikkan derajatnya sedangkan sikap suka menghina adalah sumber penghancuran diri.

Kata Kata Motivasi Jangan Berlaku Sombong

Kesombongan adalah salah satu sifat yang tidak disukai oleh Allah Swt. Karena kesemua apa yang diciptakan di muka bumi adalah milik-Nya dan kita sebagai manusia hanyalah pemilik sementara saja. Jadi tak ada yang harus kita sombongkan dalam kehidupan yang bersifat sementara ini. Karena pada hakikatnya, kesombongan itu hanya akan membuat hidup kita tersesat dan berada pada jalan yang tidak di ridhoi dan tidak di rahmati oleh Allah Swt.
Sifat sombong adalah sifat iblis dan orang yang berlaku sombong adalah saudaranya syaitan. Karena sifat sombong dan keangkuhan adalah salah satu sifat yang paling dibenci oleh Allah Swt. Karena penyebab iblis, syaitan di laknat oleh Allah karena sifat kesombongannya yang tidak ingin patut dan menghormati Nabi adam as yang diciptakan dari tanah.
Kadang kita sebagai manusia berlaku sombong tanpa disadari. Sebelum semuanya terjadi, marilah setiap saat merenungi diri sendiri agar kita terhindar dari sifat angkuh dan sombong ini, yang banyak menghancurkan orang-orang disekitar kita masing-masing. 
Jangan karena sesuatu hal, anda merasa sombong dan angkuh dalam menjalani hidup ini. Karena kesombongan dalam diri seseorang hanya akan membuat hidupnya penuh dengan rasa cemas dan kekhawatiran, karena merasa dirinya dialah yang terhebat.  
Begitu banyak orang meraik puncak kesuksesan itu. Tapi kesemuanya hancur seketika, karena dalam dirinya ada rasa sombong dan angkuh. Jadi, mereka akan lupa siapa dirinnya dan tujuannya hidup di muka bumi ini. 
Jangan sekali-sekali anda berlaku sombong karena sifat kesombongan itu akan menghancurkan hidup, masa depan dan kebahagian anda kelak. 

Berikut ini, beberapa penjelasan Jangan Berlaku Sombong dalam Al-Quran

Salah satu tujuan diutusnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah untuk memperbaiki akhlak manusia. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

Artinya “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang baik.” (HR. Ahmad 2/381. Syaikh Syu’aib Al Arnauth menyatakan bahwa hadits ini shahih)

Islam adalah agama yang mengajarkan akhlak yang luhur dan mulia. Oleh karena itu, banyak dalil al Quran dan as Sunnah yang memerintahkan kita untuk memiliki akhlak yang mulia dan menjauhi akhlak yang tercela. Demikian pula banyak dalil yang menunjukkan pujian bagi pemilik akhlak baik dan celaan bagi pemilik akhlak yang buruk. Salah satu akhlak buruk yang harus dihindari oleh setiap muslim adalah sikap sombong.

Sikap sombong adalah memandang dirinya berada di atas kebenaran dan merasa lebih di atas orang lain. Orang yang sombong merasa dirinya sempurna dan memandang dirinya berada di atas orang lain. (Bahjatun Nadzirin, I/664, Syaikh Salim al Hilali, cet. Daar Ibnu Jauzi)

Islam Melarang dan Mencela Sikap Sombong


Allah Ta’ala berfirman,

وَلاَ تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلاَ تَمْشِ فِي اللأَرْضِ مَرَحاً إِنَّ اللهَ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَجُوْرٍ

Artinya : “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman:18)

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ

Artinya :“Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri.” (QS. An Nahl: 23)

Haritsah bin Wahb Al Khuzai’i berkata bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ قَالُوا بَلَى قَالَ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ

Artinya : “Maukah kamu aku beritahu tentang penduduk neraka? Mereka semua adalah orang-orang keras lagi kasar, tamak lagi rakus, dan takabbur(sombong).“ (HR. Bukhari no. 4918 dan Muslim no. 2853).

Dosa Pertama Iblis

Sebagian salaf menjelaskan  bahwa dosa pertama kali yang muncul kepada Allah adalah kesombongan. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلاَئِكَةِ اسْجُدُوا لأَدَمَ فَسَجَدُوا إِلاَّ إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الكَافِرِينَ

Artinya : “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kalian kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur (sombong) dan ia termasuk golongan orang-orang yang kafir“ (QS. Al Baqarah:34)

Qotadah berkata tentang ayat ini, “Iblis hasad kepada Adam ‘alaihis salaam dengan kemuliaan yang Allah berikan kepada Adam. Iblis mengatakan, “Saya diciptakan dari api sementara Adam diciptakan dari tanah”. Kesombongan inilah dosa yang pertama kali terjadi . Iblis sombong dengan tidak mau sujud kepada Adam” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/114, cet al Maktabah at Tauqifiyah)

Hakekat Kesombongan

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Artinya : “Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“ (HR. Muslim no. 91)

An Nawawi rahimahullah berkata, “Hadist ini berisi larangan dari sifat sombong yaitu menyombongkan diri kepada manusia, merendahkan mereka, serta menolak kebenaran” (Syarah Shahih Muslim Imam Nawawi, II/163, cet. Daar Ibnu Haitsam)

Kesombongan ada dua macam, yaitu sombong terhadap al haq dan sombong terhadap makhluk. Hal ini diterangkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hadist di atas dalam sabda beliau, “sombong adalah menolak kebenaran dan suka meremehkan orang lain”. Menolak kebenaran adalah dengan menolak dan berpaling darinya serta tidak mau menerimanya. Sedangkan meremehkan manusia yakni merendahkan dan meremehkan orang lain, memandang orang lain tidak ada apa-apanya dan melihat dirinya lebih dibandingkan orang lain. (Syarh Riyadus Shaalihin, II/301, Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin, cet Daar Ibnu Haitsam)

Sombong Terhadap al Haq (Kebenaran)

Sombong terhadap al haq adalah sombong terhadap kebenaran, yakni dengan tidak menerimanya. Setiap orang yang menolak kebenaran maka dia telah sombong disebabkan penolakannya tersebut.  Oleh karena itu wajib bagi setiap hamba untuk menerima kebenaran yang ada dalam Kitabullah dan ajaran para rasul ‘alaihimus salaam.

Orang yang sombong terhadap ajaran rasul secara keseluruhan maka dia telah kafir dan akan kekal di neraka. Ketika datang kebenaran yang dibawa oleh rasul dan dikuatkan  dengan ayat dan burhan, dia bersikap sombong dan hatinya menentang sehingga dia menolak kebenaran tersebut. Hal ini seperti yang Allah terangkan dalam firman-Nya,

إِنَّ الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي ءَايَاتِ اللهِ بِغَيْرِ سًلْطَانٍ أَتَاهُمْ إِن فِي صُدُورِهِمْ إِلاَّ كِبْرٌ مَّاهُم بِبَالِغِيهِ فَاسْتَعِذْ بِاللهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah tanpa lasan yang sampai pada mereka tidak ada dalam dada mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kesombongan yang mereka sekali-klai tiada akan mencapainya, maka mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha Mnedengar lagi Maha Melihat” (QS. Ghafir:56)

Adapun orang yang sombong dengan menolak sebagian al haq yang tidak sesuai dengan hawa nafsu dan akalnya –tidak termasuk kekafiran- maka dia berhak mendapat hukuman (adzab) karena sifat sombongnya tersebut.

Maka wajib bagi para penuntut ilmu untuk memiliki tekad yang kuat mendahulukan perkataan Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam di atas perkataan siapa pun. Karena pokok kebenaran adalah kembali kepadanya dan pondasi kebenaran dibangun di atasnya, yakni dengan petunjuk Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Kita berusaha untuk mengetahui maksudnya, dan mengikutinya secara lahir dan batin. (Lihat Bahjatu Qulubil Abrar, hal 194-195, Syaikh Nashir as Sa’di, cet Daarul Kutub ‘Ilmiyah)

Sikap seorang muslim terhadap setiap kebenaran adalah menerimanya secara penuh sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla,

وَمَاكَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلاَمُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللهُ وَرَسُولَهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةَ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً مُّبِينًا

Artinya : “Dan tidaklah patut bagi mukmin laki-laki dan mukmin perempuan, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.” (QS. Al-Ahzab: 36)

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَيُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya : “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya” (QS. An Nisaa’: 65)

Sombong Terhadap Makhluk

Bentuk kesombongan yang kedua adalah sombong terhadap makhluk, yakni dengan meremehkan dan merendahkannya. Hal ini muncul karena seseorang bangga dengan dirinya sendiri dan menganggap dirinya lebih mulia dari orang lain. Kebanggaaan terhadap diri sendiri membawanya sombong terhadap orang lain, meremehkan dan menghina mereka, serta merendahkan mereka baik dengan perbuatan maupun perkataan. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ

Artinya : “Cukuplah seseorang dikatakan berbuat jahat jika ia menghina saudaranya sesama muslim” (H.R. Muslim 2564). (Bahjatu Qulubill Abrar, hal 195)

Di antara bentuk kesombongan terhadap manusia di antaranya adalah sombong dengan pangkat dan kedudukannya, sombong dengan harta, sombong dengan kekuatan dan kesehatan, sombong dengan ilmu dan kecerdasan, sombong dengan bentuk tubuh, dan kelebihan-kelebihan lainnya. Dia merasa lebih dibandingkan orang lain dengan kelebihan-kelebihan tersebut. Padahal kalau kita renungkan, siapa yang memberikan harta, kecerdasan, pangkat, kesehatan, bentuk tubuh yang indah? Semua murni hanyalah nikmat dari Allah Ta’ala. Jika Allah berkehendak, sangat mudah bagi Allah untuk mencabut kelebihan-kelebihan tersebut. Pada hakekatnya manusia tidak memiliki apa-apa, lantas mengapa dia harus sombong terhadap orang lain? Wallahul musta’an.

Hukuman Pelaku Sombong di Dunia

Dalam sebuah hadist yang shahih dikisahkan sebagai berikut,

أَنَّ رَجُلاً أَكَلَ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِشِمَالِهِ فَقَالَ « كُلْ بِيَمِينِكَ ». قَالَ لاَ أَسْتَطِيعُ قَالَ « لاَ اسْتَطَعْتَ ». مَا مَنَعَهُ إِلاَّ الْكِبْرُ. قَالَ فَمَا رَفَعَهَا إِلَى فِيهِ.

Artinya : “Ada seorang laki-laki makan di samping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tangan kirinya. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Makanlah dengan tangan kananmu!” Orang tersebut malah menjawab, “Aku tidak bisa.” Beliau bersabda, “Apakah kamu tidak bisa?” -dia menolaknya karena sombong-. Setelah itu tangannya tidak bisa sampai ke mulutnya” (H.R. Muslim no. 3766).

Orang tersebut mendapat hukum di dunia disebabkan perbuatannya menolak perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Dia dihukum karena kesombongannya. Akhirnya dia tidak bisa mengangkat tangan kanannya disebabkan sikap sombongnya terhadap perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah di antara bentuk hukuman di dunia bagi orang yang sombong.

Mengganti Sikap Sombong dengan Tawadhu’

Kebalikan dari sikap sombong adalah sikap tawadhu’ (rendah hati). Sikap inilah yang merupakan sikap terpuji, yang merupakan salah satu sifat ‘ibaadur Rahman yang Allah terangkan dalam firman-Nya,

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

Artinya : “Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih adalah orang-orang yang berjalan di atas muka bumi dengan rendah hati (tawadhu’) dan apabila orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik.” (QS. Al Furqaan: 63)

Diriwayatkan dari Iyadh bin Himar radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

وَإِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلَا يَبْغِ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

Artinya : ‘Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap rendah hati hingga tidak seorang pun yang bangga atas yang lain dan tidak ada yang berbuat aniaya terhadap yang lain” (HR Muslim no. 2865).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ.


Artinya : “Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Tidak ada orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaan untuknya. Dan tidak ada orang yang tawadhu’ (merendahkan diri) karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim no. 2588)

Sikap tawadhu’ inilah yang akan mengangkat derajat seorang hamba, sebagaimana Allah berfirman,

دَرَجَاتٍ الْعِلْمَ أُوتُوا وَالَّذِينَ مِنكُمْ آمَنُوا الَّذِينَ اللَّهُ يَرْفَعِ

Artinya: “Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat “ (QS. Al Mujadilah: 11).

Termasuk buah dari lmu yang paling agung adalah sikap tawadhu’. Tawadhu’ adalah ketundukan secara total terhadap kebenaran, dan tunduk terhadap perintah Allah dan rasul-Nya dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan disertai sikap tawdahu’ terhadap manusia dengan bersikap merenadahkan hati, memperhatikan mereka baik yang tua maupun muda, dan memuliakan mereka. Kebalikannya adalah sikap sombong yaitu menolak kebenaran dan rendahkan manusia.  (Bahjatu Qulubil Abrar, hal 110)

Tidak Termasuk Kesombongan

Tatkala Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan bahwa orang yang memiliki sikap sombong tidak akan masuk surga, ada sahabat yang bertanya tentang orang yang suka memakai pakaian dan sandal yang bagus. Dia khawatir hal itu termasuk kesombongan yang diancam dalam hadits. Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan bahwasanya hal itu tidak termasuk kesombongan selama orang tersebut tunduk kepada kebenaran dan bersikap tawadhu’ kepada manusia. Bahkan hal itu termasuk bentuk keindahan yang dicintai oleh Allah, karena sesungguhnya Allah Maha Indah dalam dzat-Nya, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, serta perbuatan-Nya. Allah mencintai keindahan lahir dan batin.( Bahjatu Qulubil Abrar , hal 195)

Kesombongan yang Paling Buruk

Al Imam Adz Dzahabi rahimahullah berkata, “Kesombongan yang paling buruk adalah orang yang menyombongkan diri di hadapan manusia dengan ilmunya, merasa dirinya besar dengan kemuliaan yang dia miliki. Bagi orang tersebut tidak  bermanfaat ilmunya untuk dirinya. Barangsiapa yang menuntut ilmu demi akhirat maka ilmunya itu akan menimbulkan hati yang khusyuk serta jiwa yang tenang. Dia akan terus mengawasi dirinya dan tidak bosan untuk terus memperhatikannya, bahkan setiap saat dia selalu introspeksi dan meluruskannya. Apabila dia lalai dari hal itu, dia akan menyimpang dari jalan yang lurus dan akan binasa. Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk membanggakan diri dan meraih kedudukan, memandang remeh kaum muslimin yang lainnya serta membodoh-bodohi dan merendahkan mereka, maka hal ini merupakan kesombongan yang paling besar. Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun hanya sebesar dzarrah (biji sawi).  Laa haula wa laa quwwata illaa billah.” (Al Kabaa’ir ma’a Syarh li  Ibni al ‘Utsaimin hal. 75-76, cet. Daarul Kutub ‘Ilmiyah.)

Kata Kata Motivasi Jangan Pernah Menganggap Remeh Orang Yang Berada Di Bawah Anda

Kebanyakan di antara kita banyak yang meremehkan orang lain mungkin karena mempunyai harta yang melimpah ataukah bisa jadi karena mempunyai pangkat, jabatan ataukah kekuasaan. Padahal kesemuanya itu tidaklah abadi dan kekal untuk selama-lamanya.
Harta, pangkat, jabatan dan kekuasaan itu kesemuanya adalah ujian bagi kita manusia. Karena kebanyakan diantara manusia ketika mencapai kesemuanya itu mereka lupa akan siapa diri mereka sebelumnya. Orang yang berprilaku seperti ini adalah termasuk orang yang merugi, karena merendahkan dan memandang sebelah orang yang lebih rendah di bawahnya.
Jangan karena harta dan pangkat anda berubah secara derastis. Dalam artian, tetaplah bersifat tawadhu (rendah hati) dan jangan pernah meremehkan orang yang berada di bawah anda karena kapan ketika anda meremehkan, itu sama halnya anda lebih rendah dbandingkan dengan orang yang anda remehkan.
Harta dan pangkat bukanlah tujuannya untuk merendahkan dan menindas orang yang lemah tapi hanya untuk mengasihi dan membantu bagi mereka yang membutuhkan pertolongan dan uluran tangan kita. Karena harta dan pangkat yang diberikan kepada kita hanyalah titipan sementara saja.
Mungkin hari ini anda telah sukses dan meremehkan orang lain yang berada di bawah anda tapi ingat kehidupan ini akan selalu berputar dan berjalan seiring dengan waktu. Karena tidak ada yang bisa menjamin apakah pangkat, jabatan dan kekuasaan akan selalu bersama anda.
Tak ada yang patut kita banggakan di dunia ini, karena kita akan kembali kepada-Nya hanya dengan memakai kain kafan saja tanpa membawah harta dan pangkat yang kita duduki selama hidup di dunia ini. Jadi, apalagi yang ingin kita banggakan di dunia ini ? 
Hakikat Tuhan menciptakan dan mengutus kita di muka bumi ini hanyalah untuk hidup secara tenang, damai, tenteram serta menghormati dan saling menghargai sesama ciptaan Tuhan. Bukan untuk saling menjatuhkan dan mencaci maki.
Tak ada yang patut kita banggakan di dunia ini, karena kesemuanya adalah milik sang pencipta Ilahi Rabbi yang bisa mengambil kapan dan dimana saja jikalau Dia menghendaki-Nya.

Sebagai Catatan Penting :

Jikalau anda tidak ingin merendahkan atau meremehkan orang lain, ingatlah sang pencipta selalu. Karena dengan mengingat-Nya anda akan sadar akan siapa diri anda sebelumnya. Jika anda berfikir seperti itu, maka tidak akan pernah anda celah untuk bersifat takabbur dan menyombongkan diri.
Jikalau kekuasaan dan pangkat sudah berada di posisi anda, maka merendah dan jangan pernah angkuh/sombong kepada siapa saja. Karena kapan anda sombong/ankguh maka orang akan menjauhi anda serta anda akan jauh dari yang namanya kebahagiaan dan ketenangan dalam hidup ini.
Satu hal yang paling penting bagi mereka yang menduduki suatu jabatan, pangkat dan kekuasaan adalah jangan pernah anda menjadi orang yang kikir. Dalam artian, sisipkanlah sebagian harta yang anda milki buat orang yang pantas menerimanya. Karena tidak semuanya harta yang anda miliki/peroleh adalah milik anda semua. Sesuai dengan realitas dan fakta yang terjadi kebanyakan orang yang kikir adalah mereka yang memiliki jabatan, pangkat dan kekuasaan.

Kata Kata Motivasi Menghormati Orang Lain 

Menghormati orang lain adalah suatu keharusan bahkan dianjurkan untuk tetap menghormati orang, apakah orang yang kita kenal atau tidak pernah kenal sebelumnya. Maka kita wajib menghormatinya. Karena tanpa menghormati orang lain, kita tidak bisa dianggap sebagai sejatinya manusia.
Jika anda sudah mencapai apa yang selama ini anda damba-dambakan atau cita-citakan. Maka tetaplah menghormati setiap kali orang berjumpah dengan anda. Karena kekuasaan, pangkat, jabatan dan apa yang kita raih sekarang adalah hanyalah titipan dari Allah Swt yang bersifat sementara. Jadi, tak ada yang patut untuk di sombongkan dan di banggakan.
Bersikap baik dan berprilaku baiklah kepada siapa saja orang yang ingin mengenal anda ataukah sudah mengenal anda. Karena dengan bersikap baik dan berprilaku serta menghormati orang lain tersebut. Maka yakin dan percaya, sebagian orang akan mengangumi bahkan menyegani anda karena rasa hormat anda kepada orang lain. 
Jika ada suatu hari kelak, anda  dihina atau tidak dihormati sama sekali. Maka tanamkanlah dalam diri anda, bahwa anda harus tetap bersabar dalam menghadapi masalah itu. Karena mungkin saja mereka keliru atau tidak bisa mengontrol emosi dan tindakannya kepada anda.  
Siapapun anda untuk saat ini, apakah berpangkat atau orang yang memiliki harta yang melimpah. Tetaplah rendah hati dan hormatilah orang yang berada disekitar dan dilingkungan anda serta jangan pernah meremehkan orang yang berada di bawh anda. 
Dimana dan kapanpun anda berada, hormatilah tiap kali orang yang anda jumpahi. Karena menghormati orang lain adalah suatu keharusan yang harus di lakukan karena kita hidup beraneka macam ras, suku, agama, etnik dan lain sebagainya.  
Jangan pernah anda merasa tinggi hati atau menganggap seseorang lebih rendah dibandingkan dengan anda. Karena sesungguhnya, tidak menghormati lain secara tidak langsung anda tidak menghormati diri anda sendiri. 
Ingat! Tak ada yang patut kita banggakan dalam hidup ini, karena semuanya tidak kekal abadi selama-lamanya. Jadi mulai dari sekarang, hormatilah orang dengan setulus hati anda. Jangan menghormati seseorang karena hanya ada sesuatu yang ingin anda harapkan darinya.

Beberapa hadist dan ayat tentang Menghormati Orang 

Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wa Salam bersabda, yang artinya: “Bukanlah termasuk golongan kami siapa saja yang tidak menghormati orang yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda dan mengenal hak orang ‘alim kita.” (HR Ahmad dan Hakim, dihasankan oleh Al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no. 4319)

Dan orang yang paling pantas dihormati dan dihargai adalah orang yang paling banyak ilmu dan amal ibadahnya. Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa Salam bersabda, yang artinya: “Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala mengangkat beberapa kaum dengan kitab ini dan merendahkan yang lain.” [HR. Muslim, Dalam Kitab Shalat orang-orang musafir, bab 47, hadits no. 817 (Syarh an-Nawawi 3/346 )].

Orang yang memiliki akhlak ihtiram (menghormati orang lain) menghormati ilmu dan pemiliknya, dan termasuk penghormatan terhadap ulama yang dapat kita rasakan wibawanya. Al-Bukhari meriwayatkan sesungguhnya Hudzaifah rodhiyallohu ‘anhu menyampaikan hadits tentang fitnah, lalu para tabi’in ingin bertanya kepadanya, mereka berkata: “Karena wibawa Hudzaifah kami tidak mampu bertanya kepadanya…” (HR. Bukhori, hadits no 525 dan diriwayatkan oleh Ahmad 5./402 dan ini adalah lafazhnya)

Sungguh seperti inilah keadaan para sahabat bersama Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa Salam, pada suatu ketika mereka ingin bertanya kepada beliau shollallohu ‘alaihi wa Salam tentang orang yang menepati janjinya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, siapakah yang dimaksud dengannya dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala, yang artinya:

“Di antara orang-orang mu’min itu ada orang-orang yang menepati apa yang mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur.” (QS. al-Ahzab :23)

Mereka berkata kepada arab badawi yang jahil, “Tanyakanlah kepada beliau shollallohu ‘alaihi wa Salam tentang orang yang menepati janjinya kepada Allah subhanahu wa ta’ala, siapakah dia? Rawi (yang meriwayatkan) berkata: ‘Mereka tidak berani menanyakannya, mereka menghormati dan membesarkan beliau shollallohu ‘alaihi wa Salam.’ (HR. Tirmidzi no. 2560/3433 dalam sunannya 3/91, (hasan shahih).

Dan di dalam hadits sujud sahwi, sesungguhnya Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa Salam shalat dua rekaat, bukan empat rekaat. Maka sebagian sahabat mengira bahwa shalat diqashar. Abu Hurairah rodhiyallohu ‘anhu berkata: ‘Dalam jamaah adalah Abu Bakar rodhiyallohu ‘anhu dan Umar rodhiyallohu ‘anhu, keduanya merasa segan (untuk) mempertanyakannya…” (HR. Bukhari, hadits no. 6051 dan diriwayatkan oleh Ahmad 2/234 dan ini adalah lafazhnya)

Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa Salam pun mendorong mereka agar selalu bertanya, beliau -shollallohu ‘alaihi wa Salam- bersabda: ‘Bertanyalah kepadaku’ –namun mereka segan bertanya kepada beliau -shollallohu ‘alaihi wa Salam- [HR. Muslim, kitab iman, bab 1, hadits no. 7-10 (Syarh an-Nawawi 1/278)]. Maka Allah subhanahu wa ta’ala mengutus Jibril alaihis salam dalam bentuk manusia untuk bertanya kepada beliau agar mereka belajar tentang agama mereka.

Hendaklah bertanya dengan pertanyaan yang tidak memberatkan ulama

Di antara tatakrama menghormati ulama adalah tidak berbicara bersama mereka dalam masalah-masalah yang langka. Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa Salam melarang dari ghuluthot. Al-Auza’i berkata: al-Ghuluthot adalah masalah-masalah yang berat dan susah (HR. Ahmad 5/435). Dan disebutkan dalam hadits yang shahih:

“Janganlah engkau menuntut ilmu (bertujuan, berniat) untuk mengalahkan para ulama atau membantah orang-orang bodoh dan jangan pula untuk berani di majelis. Maka barangsiapa yang melakukan hal itu maka api neraka, api neraka.” [Shahih al-Jami’, hadits no 7370 (Shahih)]

Maka hendaklah merasa takut orang-orang yang bertanya hanya untuk membantah atau untuk menguji, bukan untuk belajar. Maka sesungguhnya sifat umat Muhammad shollallohu ‘alaihi wa Salam adalah menghormati dan membesarkan ilmu dan pemiliknya.

“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang tua dan tidak menyayangi yang muda dari kami serta tidak mengenal hak orang ‘alim dari kami.” [Shahih al-Jami’, hadits no. 5443 (hasan)]

Sebagaimana wajib menghormati orang alim, penuntut ilmu juga berhak mendapat penghormatan. Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan dalam hadits utusan dari Bani Qais, sesungguhnya Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa Salam menempatkan mereka sebagai tamu kepada kaum Anshar: Maka tatkala di pagi hari, beliau bersabda, ‘Bagaimana kalian melihat penghormatan saudara-saudara kalian dan jamuan mereka terhadap kalian? Mereka menjawab, ‘Sebaik-baik saudara, mereka melembutkan tempat tidur kami dan membuat enak makanan kami, malam dan pagi hari mereka terus-menerus mengajarkan kepada kami Kitabullah (al-Qur`an) dan sunnah nabi kami.’ (Musnad Ahmad 3/432)

Dan yang lebih jelas dari itu, riwayat yang disebutkan dalam hadits Hasan, yang artinya:

‘Akan datang kepada kalian satu kaum yang menuntut ilmu. Maka bila kamu melihat mereka maka katakanlah kepada mereka: Selamat datang dengan wasiat/pesan Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa Salam, dan berikanlah fatwa kepada mereka.’ [Shahih al-Jami’, hadits no. 3651 (hasan)]

Maka hendaklah para ulama memberi pesan kebaikan kepada para santrinya, sesungguhnya hal itu menambah penghormatan dan penghargaan para murid (santri) kepada para guru dan pendidik mereka.

Sebelum admin menutup artikel di atas. Kami ingin mengajak kepada anda sekalian, untuk tetap menjadi pribadi yang beriman dan bertakwa kepada Allah Swt serta menjalankan semua apa yang diperintahkan-Nya dan menjauhi apa yang di larang-Nya. Dan marilah kita menanamkan mulai saat ini, sifat menghormati orang lain dalam kehidupan bermasyarakat. Agar hidup kita lebih bermakna dan mencapai puncak kebahagiaan dalam hidup ini. Dengan saling menghormati antara sesama yang lain. Aamiiin

Demikianlah postingan artikel membahas mengenai Kata Kata Motivasi Hidup Jangan Meremehkan Orang Lain. Semoga bermanfaat dan dengan adanya artikel di atas, anda semakin sadar-sesadarnya bahwa tidak ada gunanya dalam hidup ini jika kita selalu merendahkan dan meremehkan orang lain. Karena perbuatan seperti itu adalah perbuatan yang sebenar-benarnya dilarang oleh Allah Swt. 
Bagikan ke :
Facebook Twitter Google+

0 Response to "Kata Kata Motivasi Hidup Jangan Meremehkan Orang Lain"

Posting Komentar